Daftar Presiden Indonesia
Presiden Republik Indonesia adalah pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi di Indonesia, selain juga sebagai kepala negara. Lembaga Kepresidenan Indonesia dibentuk pada tahun 1945 oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI), memilih Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia. Sebelum dilakukan amendemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Setelah itu dimulai pada Pemilu tahun 2004, presiden dipilih secara langsung oleh rakyat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
1. Ir. Soekarno
Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno (ER, EYD: Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1967. Ia adalah seorang tokoh perjuangan yang memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang kontroversial, yang isinya —berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat— menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggungjawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang sama dan Soeharto menggantikannya sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.
Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah
pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda,
dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.
Setelah Gerakan 30 September 1965, Soeharto kemudian
melakukan operasi penertiban dan pengamanan atas perintah dari Presiden
Soekarno, salah satu yang dilakukannya adalah dengan menumpas Gerakan 30 September dan menyatakan
bahwa PKI sebagai organisasi terlarang.
Berbagai kontroversi menyebut operasi ini menewaskan sekitar 100.000 hingga 2
juta jiwa, namun jumlah ini patut dipertanyakan karena korban dari Gerakan 30
September juga banyak.[4][5]
Soeharto kemudian diberi mandat oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) sebagai Presiden pada 26 Maret 1968[6] menggantikan Soekarno,
dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali
oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun
1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun
tersebut, menyusul terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh
ribuan mahasiswa.
Ia merupakan orang terlama yang menjabat sebagai presiden Indonesia. Soeharto
digantikan oleh B.J. Habibie.
Selama 32 tahun pemerintahannya Soeharto meletakkan
pondasi pembangunan di Indonesia melalui Repelita. Dalam masa kekuasaannya, yang
disebut Orde Baru,
Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan
infrastruktur.[7][8][9][10] Dalam
era ini masyarakat mendapati harga bahan-bahan pokok yang terjangkau dan
situasi keamanan dan ketertiban yang terjaga, juga tercapainya Swasembada
Beras. Hal ini ditandai dengan medali From Rice Importer To Self Sufficiency
dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada 1984 yang diterima Presiden
Soeharto.[11]
Soeharto juga merupakan sosok yang
kontroversial karena membatasi kebebasan warga
negara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur,
dan disebut sebagai rezim paling korup dalam sejarah dunia modern.
Menurut Transparency International, estimasi
kerugian negara adalah sekitar 15–35 miliar dolar Amerika Serikat selama
pemerintahannya.[12] Namun,
hal ini tidak berhasil dibuktikan, bahkan Majalah Time kalah dalam gugatan [13] dan
usaha lain untuk mengadili Soeharto gagal karena kesehatannya yang memburuk. Setelah
menderita sakit berkepanjangan, ia meninggal karena kegagalan organ multifungsi
di Jakarta pada
tanggal 27 Januari 2008.
Komentar
Posting Komentar